Kamis, 21 Juni 2012

Perlakuan Keuntungan dan Kerugian Inflasi


TUGAS OUTLINE
4EB01

Arif Siswanto (20208180)
Gesit Bhakti (21208446)
Hesti Yustina (20208596)
Lulu Hikmah (20208753)
Venny Sagita (21208254)
 
BAB I
Latar Belakang
 Salah satu titik awal kelahiran ilmu ekonomi makro adalah adanya permasalahan ekonomi jangka pendek yang tidak dapat diatasi oleh teori ekonomi klasik. Masalah jangka pendek ekonomi tersebut yang diantarannya inflasi. Inflasi (inflation) adalah gejala yang menunjukkan kenaikan tingkat harga umum yang berlangsung terus menerus.
Pada saat terjadinya depresi ekonomi Amerika Serikat tahun 1929, terjadi inflasi yang tinggi dan diikuti dengan pengangguran yang tinggi pula. Didasarkan pada fakta itulah A.W. Phillips mengamati hubungan antara tingkat inflasi dan tingkat pengangguran. Dari hasil pengamatannya, ternyata ada hubungan yang erat antara inflasi dengan tingkat pengangguran, dalam arti jika inflasi tinggi, maka pengangguran akan rendah. Hasil pengamatan Phillips ini dikenal dengan kurva Phillip.
Gambar 1.
Kurva Phillips
Masalah utama dan mendasar dalam ketenagakerjaan di Indonesia adalah masalah upah yang rendah dan tingkat pengangguran yang tinggi. Hal tersebut disebabkan karena, pertambahan tenaga kerja baru jauh lebih besar dibandingkan dengan pertumbuhan lapangan kerja yang dapat disediakan. setiap tahunnya. Pertumbuhan tenaga kerja yang lebih besar dibandingkan dengan ketersediaan lapangan kerja menimbulkan pengangguran yang tinggi. Pengangguran merupakan salah satu masalah utama dalam jangka pendek yang selalu dihadapi setiap negara. Karena itu, setiap perekonomian dan negara pasti menghadapi masalah pengangguran, yaitu pengangguran alamiah (natural rate of unemployment).
Pada tahun 1980-an, pengangguran terbuka di Indonesia meningkat hampir dua kali lipat yaitu dari 1,7 persen pada tahun 1980 menjadi 3,2 persen pada tahun 1990. Pertumbuhan pengangguran di perkotaan lebih tinggi daripada di pedesaan, yaitu meningkat dari 2,8 persen pada tahun 1980 menjadi 6,1 persen pada tahun 1990. Sebaliknya tingkat pengangguran di pedesaan menurun secara drastis yaitu dari 1,4 persen menjadi 0,1 persen.
Dari sisi pendidikan, tingkat pengangguran selama periode 1980 – 1990 pada semua tingkat pendidikan memper-lihatkan kecenderungan yang meningkat. Seterusnya, tingkat angkatan kerja berpendidikan di bawah Sekolah Dasar yang menganggur paling rendah sedangkan yang berpendidikan tinggi adalah yang paling tinggi, yaitu meningkat dari 1,8 persen pada 1980 menjadi

Tujuan Penulisan
  1. Untuk mengetahui keuntungan dan kerugian inflasi
  2. Untuk mengetahui adanya hubungan antara inflasi, akuntansi dan kemiskinan.

Manfaat Penulisan
Hasil penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada beberapa
pihak, antara lain:
1.      Bagi Akademisi
Dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi peneliti lain yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti serta sebagai Dharma Bakti Perguruan Tinggi Universitas Gunadarma pada umumnya dan Fakultas Ekonomi pada khususnya.
2.      Bagi Penulis
Penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada penulis yaitu sebagai wahana untuk menerapkan pengetahuan teoritis yang telah penulis miliki ke dalam kondisi yang nyata atau riil.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan pendapatan nasional secara berarti dalam suatu periode perhitungan tertentu (Putong, 2003). Angka pertumbuhan ekonomi umumnya dalam bentuk persentase dan bernilai positif, tetapi mungkin juga bernilai negatif. Negatifnya pertumbuhan ekonomi disebabkan adanya penurunan yang lebih besar dari pendapatan nasional tahun berikutnya dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Menurut Prof. Simon Kuznets, mendefinisikan pertumbuhan ekonomi sebagai kenaikan jangka panjang dalam kemampuan suatu negara untuk menyediakan semakin banyak jenis barang-barang ekonomi kepada penduduknya. Kemampuan ini tumbuh sesuai dengan kemajuan teknologi, dan penyesuaian kelembagaan dan idiologis yang diperlukannya. Definisi ini mempunyai 3 (tiga) komponen: pertama, pertumbuhan ekonomi suatu bangsa terlihat dari meningkatnya secara terus-menerus persediaan barang; kedua, teknologi maju merupakan faktor dalam pertumbuhan ekonomi yang menentukan derajat pertumbuhan kemampuan dalam penyediaan aneka macam barang kepada penduduk; ketiga, penggunaan teknologi secara luas dan efisien memerlukan adanya penyesuaian di bidang kelembagaan dan idiologi sehingga inovasi yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan umat manusia dapat dimanfaatkan secara tepat (Jhingan, 2000).

2.1.1 Faktor-Faktor Pertumbuhan Ekonomi
Menurut Arsyad (1997), terdapat 3 faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, yaitu:
1. Akumulasi Modal
Akumulasi modal akan terjadi jika ada proporsi tertentu dari pendapatan sekarang yang ditabung dan kemudian diinvestasikan untuk memperbesar output pada masa yang akan datang. Pabrikpabrik, mesin-mesin, peralatan-peralatan dan barang-barang yang baru akan meningkatkan stok modal fisikal suatu negara. Pabrikpabrik, mesin-mesin, peralatan-peralatan dan barang-barang yang baru akan meningkatkan stok modal fisikal suatu negara sehingga pada gilirannya akan memungkinkan negara tersebut untuk mencapai output yang lebih besar.
Jenis investasi diatas menyebabkan terjadinya akumulasi modal. Akumulasi modal, akan menambah sumberdaya baru atau meningkatkan kualitas sumberdaya yang ada, tetapi ciri-cirinya yang utama bahwa investasi itu menyangkut suatu trade-off antar konsumsi sekarang dan konsumsi masa yang akan datang, menghasilkan hasil yang sedikit sekarang tetapi hasilnya akan lebih banyak nanti.
2. Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan penduduk dan hal yang berhubungan dengan kenaikan jumlah angkatan kerja dianggap sebagai faktor yang positif dalam merangsang pertumbuhan ekonomi, artinya semakin banyak angkatan kerja berarti semakin produktif tenaga kerja, sedangkan semakin banyak penduduk akan meningkatkan potensi pasar domestik.
3. Kemajuan Teknologi
Kemajuan teknologi merupakan faktor yang paling penting dalam pertumbuhan ekonomi. Kemajuan teknologi disebabkan oleh cara-cara baru dan cara-cara lama yang diperbaiki dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan tradisional seperti cara menanam padi, membuat pakaian, atau membuat rumah.
2.2 Inflasi
Inflasi adalah proses kenaikan harga-harga umum secara terus menerus (Putong, 2003). Inflasi dalam perekonomian disatu sisi selalu menjadi hal yang relatif menakutkan, karena inflasi dapat melemahkan daya beli dan dapat melumpuhkan kemampuan produksi yang mengarah pada krisis produksi dan konsumsi. Akan tetapi, disisi lain ketiadaan inflasi menandakan tidak adanya pergerakan positif dalam perekonomian karena relatif harga-harga tidak berubah dan ini dapat melemahkan sektor industri.
2.2.1 Jenis Inflasi
Menurut Paul A Samuelson, inflasi dapat digolongkan menurut tingkat keparahannya yaitu sebagai berikut:
1. Moderate Inflation
Moderate Inflation ditandai dengan kenaikan tingkat harga yang lambat atau umum disebut inflasi ‘satu digit’. Pada tingkat inflasi seperti ini orang masih mau untuk memeganng uang sebagai kekayaannya daripada dalam bentuk aset riil
2. Galloping Inflation
Inflasi pada tingkat ini terjadi pada tingkatan 20% sampai dengan 200% per tahun. Dalam kondisi seperti ini orang hanya mau memegang uang sejumlah yang diperlukan saja dan lebih cenderung menyimpan kekayaannya dalam bentuk aset riil. Aset riil akan bertambah sehingga menyebabkan pasar uang menyusut dan memicu tingginya suku bunga kredit. Karena tidak menariknya iklim investasi di negara tersebut maka terjadilah aliran uang keluar (capital outflow)
3. Hyper Inflation
Pada tingkat ini inflasi berada pada tingkat jutaan hingga trilyunan persen per tahun.
2.2.2 Dampak Inflasi
Dampak inflasi terhadap individu maupun masyarakat menurut Prathama Rahardja dan Manurung diantaranya adalah :
1. Menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat: inflasi menyebabkan daya beli masyarakat menjadi berkurang atau malah semakin rendah, apalagi bagi orang-orang yang berpendapatan tetap, kenaikan upah tidak secepat kenaikan harga-harga, maka inflasi ini akan menurunkan upah riil setiap individu yang berpendapatan tetap.
2. Memperburuk distribusi pendapatan : bagi masyarakat dengan pendapatan tetap akan mengalami kemerosotan nilai riil dari pendapatannya dan pemilik kekayaan dalam bentuk uang akan mengalami penurunan juga. Akan tetapi bagi pemilik kekayaan tetap seperti tanah atau bangunan dapat mempertahankan atau justru menambah nilai riil kekayaannya. Dengan demikian inflasi akan menyebabkan pembagian pendapatan diantara kelompok yang berpendapatan tetap dengan para pemilik kekayaan tetap akan menjadi semakin tidak merata.
Penurunan nilai pendapatan akan memicu munculnya kemiskinan, jika semakin banyak kelompok masyarakat yang pendapatannya terlampaui oleh kebutuhan hidupnya, akibat penurunan nilai pendapatannya, maka berarti kelompok masyarakat itu masuk pada kategori miskin. Dengan demikian inflasi memiliki hubungan dengan kemiskinan.
2.2.3 Faktor-Faktor Penyebab Inflasi
a. Penawaran Uang (Jumlah Uang Beredar)
Pengertian uang yang paling sempit adalah uang kertas dan uang logam yang ada di tangan masyarakat. Uang tunai ini disebut uang kartal (currency). Para ekonom klasik cenderung untuk mengartikan uang beredar sebagai currency karena uang inilah yang benar-benar merupakan daya beli yang langsung bisa digunakan dan langsung mempengaruhi harga barang-barang.
Dengan berkembangnya peranan Bank dalam perekonomian maka pengertian uang beredar diganti sebagai uang kartal sudah ditinggalkan. Saldo rekening koran/giro milik masyarakat umum yang disimpan di Bank (uang giral.demand deposit) mempunyai status yang sama dengan currency dan harus dimasukan dalam pengertian uang beredar. Uang beredar yang didefinisikan sebagai uang kartal ditanbah uang giral disebut uang dalam arti sempit (narrow money) (Sadono Sukirno, 1997).
b. Pendapatan Nasional
Pendapatan nasional adalah total nilai barang akhir dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara dalam kurun waktu tertentu (1 tahun). Indonesia menggunakan GDP untuk mengukur tingkat pertumbuhan ekonominya.
c. Nilai Tukar Rupiah
Rupiah adalah mata uang Indonesia. Menurut Salvatore (1997), nilai tukar adalah harga suatu mata uang terhadap mata uang lainnya. Niai tukar atau kurs juga dapat didefinisikan sebagai harga 1 unit mata uang domestik dalam satuan valuta asing. Sehingga yang dimaksud dengan nilai tukar rupiah adalah harga rupiah per satu unit dollar AS.
d. Tingkat Suku Bunga SBI
SBI (Sertifikat Bank Indonesia) adalah salah satu instrumen yang digunakan untuk kebijakan open market operation dari Bank Sentral (BI). Kebijakan Open Market Operation (Politik Pasar Terbuka) meliputi tindakan menjual dan membeli surat-surat berharga oleh Bank Sentral. Tindakan pembelian atau penjualan surat berharga akan mempengaruhi harga (dan dengan demikian juga tingkat bunga) surat berharga. Akibatnya, tingkat bunga umum juga akan terpengaruh (Nopirin, 1998)
2.2.4 Teori Inflasi
1. Teori Kuantitas
Teori ini adalah teori yang tertua yang membahas tentang inflasi, tetapi dalam perkembangannya teori ini mengalami penyempurnaan oleh para ahli ekonomi universitas Chicago, sehingga teori ini juga dikenal sebagai model kaum moneteris (monetarist models). Teori ini menekankan pada peranan jumlah uang beredar dan harapan (ekspektasi) masyarakat mengenai kenaikan harga terhadap timbulnya inflasi.
Inti dari teori ini adalah sebagai berikut:
1. Inflasi hanya bisa terjadi kalau ada penambahan volume uang beredar, baik uang kartal maupun giral.
2. Laju inflasi juga ditentukan oleh laju pertambahan jumlah uang beredar dan oleh harapan (ekspektasi) masyarakat mengenai kenaikan harga di masa mendatang.
2. Keynesian Model
Dasar pemikiran model inflasi dari Keynes ini, bahwa inflasi terjadi karena masyarakat ingin hidup diluar batas kemampuan ekonominya, sehingga menyebabkan permintaan efektif masyarakat terhadap barang-barang (permintraan agregat) melebihi jumlah barang-barang yang tersedia (penawaran agregat), akibatnya akan terjadi inflationary gap.
2.3 Kesempatan Kerja
Kesempatan kerja merupakan kesempatan bagi angkatan kerja untuk menciptakan lapangan pekerjaan, dengan harapan untuk mendapatkan imbalan berupa penghasilan ataupun keuntungan atas pekerjaan yang dilakukannya. Keberhasilan suatu rencana pembangunan sangat tergantung pada kemampuan menyediakan tenaga-tenaga yang melaksanakannya. Dasar pemikiran kesempatan kerja adalah rencana investasi dan target hasil yang direncanakan, atau secara umum rencana pembangunan.
Faktor-faktor dominan yang mempengaruhi dalam perluasan kesempatan kerja (Soeharsono; 1982):
a. Kependudukan
Penduduk di satu pihak merupakan modal dasar, tetapi sekaligus merupakan beban nasional apabila angka pertumbuhannya tidak diimbangi dengan adanya perluasan kesempatan kerja.
b. Kedudukan geografi dan sumber daya alam
Kedudukan geografi yang strategi dapat merupakan potensi yang dapat dikembangkan sebagai wadah maupun usaha penciptaan lapangan pekerjaan.
c. Kondisi Ekonomi
Sektor informal yang padat karya merupakan faktor dominan yang mempengaruhi kemungkinan perluasan kesempatan kerja.
d. Sosial budaya
Sosial budaya bangsa dengan pranata sosial merupakan nilai-nilai yang dapat menghambat mobilitas angkatan kerja untuk tercapainya perluasan kesempatan kerja.
e. Politik
Politik dalam pengertian proses pengambilan keputusan kebijakan yang diambil untuk menciptakan iklim yang sehat bagi perluasan kesempatan kerja merupakan usaha untuk mengembangkan sektor-sektor penampung kesempatan kerja yang mempunyai produktivitas rendah dan juga tidak mengabaikan usaha lain yang memberikan produktivitas yang lebih tinggi melalui beberapa program.
2.4 Kemiskinan
Kemiskinan dipahami sebagai keadaan kekurangan uang dan barang untuk menjamin kelangsungan hidup. Secara umum, jenis-jenis kemiskinan dapat dibagi menjadi dua, yaitu kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif. Pertama, kemiskinan absolut, di mana dengan pendekatan ini diidentifikasi jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan tertentu. Kedua, kemiskinan relatif, yaitu pangsa pendapatan nasional yang diterima oleh masing-masing golongan pendapatan. Berbeda dengan kemiskinan absolut, kemiskinan relatif bersifat dinamis dan tergantung di mana seseorang tinggal. Indikator kemiskinan pada umumnya menggunakan kriteria garis kemiskinan (poverty line) untuk mengukur kemiskinan absolut. Menurut BPS (Badan Pusat Statistik), tingkat kemiskinan didasarkan pada jumlah rupiah konsumsi berupa makanan yaitu 2100 kalori per orang per hari (dari 52 jenis komoditi  yang dianggap mewakili pola konsumsi penduduk yang berada dilapisan bawah), dan konsumsi nonmakanan (dari 45 jenis komoditi makanan sesuai kesepakatan nasional dan tidak dibedakan antara wilayah pedesaan dan perkotaan) (Kuncoro, 2004).
Patokan kecukupan 2100 kalori ini berlaku untuk semua umur, jenis kelamin, dan perkiraan tingkat kegiatan fisik, berat badan, serta perkiraan status fisiologis penduduk, ukuran ini sering disebut dengan garis kemiskinan. Penduduk yang memiliki pendapatan dibawah garis kemiskinan dikatakan dalam kondisi miskin. BPS menggunakan dua macam pendekatan, yaitu: pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach) dan pendekatan head count index.
Pendekatan yang pertama merupakan pendekatan yang sering digunakan. Dalam metode BPS, kemiskinan dikonseptualisasikan sebagai ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Sedangkan head count index merupakan ukuran yang menggunakan kemiskinan absolut. Jumlah penduduk miskin adalah jumlah penduduk yang berada dibawah suatu batas garis kemiskinan yang merupakan nilai rupiah dari kebutuhan minimum makanan dan non makanan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar