TUGAS OUTLINE
4EB01
Arif Siswanto
(20208180)
Gesit Bhakti (21208446)
Hesti Yustina
(20208596)
Lulu Hikmah (20208753)
Venny Sagita (21208254)
BAB I
Latar Belakang
Salah satu titik awal kelahiran ilmu ekonomi makro adalah
adanya permasalahan ekonomi jangka pendek yang tidak dapat diatasi oleh teori
ekonomi klasik. Masalah jangka pendek ekonomi tersebut yang diantarannya
inflasi. Inflasi (inflation) adalah gejala yang menunjukkan
kenaikan tingkat harga umum yang berlangsung terus menerus.
Pada saat terjadinya depresi ekonomi
Amerika Serikat tahun 1929, terjadi inflasi yang tinggi dan diikuti dengan
pengangguran yang tinggi pula. Didasarkan pada fakta itulah A.W. Phillips
mengamati hubungan antara tingkat inflasi dan tingkat pengangguran. Dari hasil
pengamatannya, ternyata ada hubungan yang erat antara inflasi dengan tingkat
pengangguran, dalam arti jika inflasi tinggi, maka pengangguran akan rendah.
Hasil pengamatan Phillips ini dikenal dengan kurva Phillip.
Gambar 1.
Kurva Phillips

Masalah utama dan mendasar dalam
ketenagakerjaan di Indonesia adalah masalah upah yang rendah dan tingkat
pengangguran yang tinggi. Hal tersebut disebabkan karena, pertambahan tenaga
kerja baru jauh lebih besar dibandingkan dengan pertumbuhan lapangan kerja yang
dapat disediakan. setiap tahunnya. Pertumbuhan tenaga kerja yang lebih besar
dibandingkan dengan ketersediaan lapangan kerja menimbulkan pengangguran yang
tinggi. Pengangguran merupakan salah satu masalah utama dalam jangka pendek
yang selalu dihadapi setiap negara. Karena itu, setiap perekonomian dan negara
pasti menghadapi masalah pengangguran, yaitu pengangguran alamiah (natural
rate of unemployment).
Pada tahun 1980-an, pengangguran terbuka
di Indonesia meningkat hampir dua kali lipat yaitu dari 1,7 persen pada tahun
1980 menjadi 3,2 persen pada tahun 1990. Pertumbuhan pengangguran di perkotaan
lebih tinggi daripada di pedesaan, yaitu meningkat dari 2,8 persen pada tahun
1980 menjadi 6,1 persen pada tahun 1990. Sebaliknya tingkat pengangguran di
pedesaan menurun secara drastis yaitu dari 1,4 persen menjadi 0,1 persen.
Dari sisi pendidikan, tingkat pengangguran
selama periode 1980 – 1990 pada semua tingkat pendidikan memper-lihatkan
kecenderungan yang meningkat. Seterusnya, tingkat angkatan kerja berpendidikan
di bawah Sekolah Dasar yang menganggur paling rendah sedangkan yang
berpendidikan tinggi adalah yang paling tinggi, yaitu meningkat dari 1,8 persen
pada 1980 menjadi
Tujuan Penulisan
- Untuk mengetahui keuntungan dan kerugian inflasi
- Untuk mengetahui adanya hubungan antara inflasi, akuntansi dan kemiskinan.
Manfaat Penulisan
Hasil penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada beberapa
pihak, antara
lain:
1. Bagi Akademisi
Dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi peneliti
lain yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti serta sebagai Dharma
Bakti Perguruan Tinggi Universitas Gunadarma pada umumnya dan Fakultas Ekonomi
pada khususnya.
2.
Bagi Penulis
Penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada
penulis yaitu sebagai wahana untuk menerapkan pengetahuan teoritis yang telah
penulis miliki ke dalam kondisi yang nyata atau riil.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi adalah
kenaikan pendapatan nasional secara berarti dalam suatu periode perhitungan
tertentu (Putong, 2003). Angka pertumbuhan ekonomi umumnya dalam bentuk
persentase dan bernilai positif, tetapi mungkin juga bernilai negatif.
Negatifnya pertumbuhan ekonomi disebabkan adanya penurunan yang lebih besar
dari pendapatan nasional tahun berikutnya dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Menurut Prof. Simon Kuznets,
mendefinisikan pertumbuhan ekonomi sebagai kenaikan jangka panjang dalam
kemampuan suatu negara untuk menyediakan semakin banyak jenis barang-barang
ekonomi kepada penduduknya. Kemampuan ini tumbuh sesuai dengan kemajuan
teknologi, dan penyesuaian kelembagaan dan idiologis yang diperlukannya.
Definisi ini mempunyai 3 (tiga) komponen: pertama, pertumbuhan ekonomi
suatu bangsa terlihat dari meningkatnya secara terus-menerus persediaan barang;
kedua, teknologi maju merupakan faktor dalam pertumbuhan ekonomi yang
menentukan derajat pertumbuhan kemampuan dalam penyediaan aneka macam barang
kepada penduduk; ketiga, penggunaan teknologi secara luas dan efisien
memerlukan adanya penyesuaian di bidang kelembagaan dan idiologi sehingga
inovasi yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan umat manusia dapat dimanfaatkan
secara tepat (Jhingan, 2000).
2.1.1 Faktor-Faktor Pertumbuhan Ekonomi
Menurut Arsyad (1997),
terdapat 3 faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, yaitu:
1. Akumulasi Modal
Akumulasi modal akan terjadi
jika ada proporsi tertentu dari pendapatan sekarang yang ditabung dan kemudian
diinvestasikan untuk memperbesar output pada masa yang akan datang.
Pabrikpabrik, mesin-mesin, peralatan-peralatan dan barang-barang yang baru akan
meningkatkan stok modal fisikal suatu negara. Pabrikpabrik, mesin-mesin,
peralatan-peralatan dan barang-barang yang baru akan meningkatkan stok modal
fisikal suatu negara sehingga pada gilirannya akan memungkinkan negara tersebut
untuk mencapai output yang lebih besar.
Jenis investasi diatas
menyebabkan terjadinya akumulasi modal. Akumulasi modal, akan menambah
sumberdaya baru atau meningkatkan kualitas sumberdaya yang ada, tetapi
ciri-cirinya yang utama bahwa investasi itu menyangkut suatu trade-off antar
konsumsi sekarang dan konsumsi masa yang akan datang, menghasilkan hasil yang
sedikit sekarang tetapi hasilnya akan lebih banyak nanti.
2. Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan penduduk dan hal
yang berhubungan dengan kenaikan jumlah angkatan kerja dianggap sebagai faktor
yang positif dalam merangsang pertumbuhan ekonomi, artinya semakin banyak
angkatan kerja berarti semakin produktif tenaga kerja, sedangkan semakin banyak
penduduk akan meningkatkan potensi pasar domestik.
3. Kemajuan Teknologi
Kemajuan teknologi merupakan
faktor yang paling penting dalam pertumbuhan ekonomi. Kemajuan teknologi
disebabkan oleh cara-cara baru dan cara-cara lama yang diperbaiki dalam
melakukan pekerjaan-pekerjaan tradisional seperti cara menanam padi, membuat
pakaian, atau membuat rumah.
2.2 Inflasi
Inflasi adalah proses
kenaikan harga-harga umum secara terus menerus (Putong, 2003). Inflasi dalam
perekonomian disatu sisi selalu menjadi hal yang relatif menakutkan, karena
inflasi dapat melemahkan daya beli dan dapat melumpuhkan kemampuan produksi
yang mengarah pada krisis produksi dan konsumsi. Akan tetapi, disisi lain
ketiadaan inflasi menandakan tidak adanya pergerakan positif dalam perekonomian
karena relatif harga-harga tidak berubah dan ini dapat melemahkan sektor
industri.
2.2.1 Jenis Inflasi
Menurut Paul A Samuelson,
inflasi dapat digolongkan menurut tingkat keparahannya yaitu sebagai berikut:
1. Moderate Inflation
Moderate Inflation ditandai dengan kenaikan tingkat harga yang lambat atau umum disebut
inflasi ‘satu digit’. Pada tingkat inflasi seperti ini orang masih mau untuk
memeganng uang sebagai kekayaannya daripada dalam bentuk aset riil
2. Galloping Inflation
Inflasi pada tingkat ini terjadi pada tingkatan 20% sampai dengan 200% per
tahun. Dalam kondisi seperti ini orang hanya mau memegang uang sejumlah yang
diperlukan saja dan lebih cenderung menyimpan kekayaannya dalam bentuk aset
riil. Aset riil akan bertambah sehingga menyebabkan pasar uang menyusut dan memicu
tingginya suku bunga kredit. Karena tidak menariknya iklim investasi di negara
tersebut maka terjadilah aliran uang keluar (capital outflow)
3. Hyper Inflation
Pada tingkat ini inflasi berada pada tingkat jutaan hingga trilyunan persen
per tahun.
2.2.2 Dampak Inflasi
Dampak inflasi terhadap
individu maupun masyarakat menurut Prathama Rahardja dan Manurung diantaranya
adalah :
1. Menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat:
inflasi menyebabkan daya beli masyarakat menjadi berkurang atau malah semakin rendah,
apalagi bagi orang-orang yang berpendapatan tetap, kenaikan upah tidak secepat
kenaikan harga-harga, maka inflasi ini akan menurunkan upah riil setiap
individu yang berpendapatan tetap.
2. Memperburuk distribusi pendapatan : bagi masyarakat
dengan pendapatan tetap akan mengalami kemerosotan nilai riil dari
pendapatannya dan pemilik kekayaan dalam bentuk uang akan mengalami penurunan
juga. Akan tetapi bagi pemilik kekayaan tetap seperti tanah atau bangunan dapat
mempertahankan atau justru menambah nilai riil kekayaannya. Dengan demikian
inflasi akan menyebabkan pembagian pendapatan diantara kelompok yang
berpendapatan tetap dengan para pemilik kekayaan tetap akan menjadi semakin
tidak merata.
Penurunan nilai pendapatan akan memicu munculnya
kemiskinan, jika semakin banyak kelompok masyarakat yang pendapatannya
terlampaui oleh kebutuhan hidupnya, akibat penurunan nilai pendapatannya, maka
berarti kelompok masyarakat itu masuk pada kategori miskin. Dengan demikian
inflasi memiliki hubungan dengan kemiskinan.
2.2.3 Faktor-Faktor Penyebab Inflasi
a. Penawaran Uang (Jumlah Uang Beredar)
Pengertian uang yang paling sempit adalah uang kertas
dan uang logam yang ada di tangan masyarakat. Uang tunai ini disebut uang
kartal (currency). Para ekonom klasik cenderung untuk mengartikan uang
beredar sebagai currency karena uang inilah yang benar-benar merupakan daya
beli yang langsung bisa digunakan dan langsung mempengaruhi harga
barang-barang.
Dengan berkembangnya peranan Bank dalam perekonomian
maka pengertian uang beredar diganti sebagai uang kartal sudah ditinggalkan.
Saldo rekening koran/giro milik masyarakat umum yang disimpan di Bank (uang
giral.demand deposit) mempunyai status yang sama dengan currency dan harus
dimasukan dalam pengertian uang beredar. Uang beredar yang didefinisikan
sebagai uang kartal ditanbah uang giral disebut uang dalam arti sempit (narrow
money) (Sadono Sukirno, 1997).
b. Pendapatan Nasional
Pendapatan nasional adalah total nilai barang akhir
dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara dalam kurun waktu tertentu (1
tahun). Indonesia menggunakan GDP untuk mengukur tingkat pertumbuhan
ekonominya.
c. Nilai Tukar Rupiah
Rupiah adalah mata uang Indonesia. Menurut Salvatore
(1997), nilai tukar adalah harga suatu mata uang terhadap mata uang lainnya.
Niai tukar atau kurs juga dapat didefinisikan sebagai harga 1 unit mata uang
domestik dalam satuan valuta asing. Sehingga yang dimaksud dengan nilai tukar
rupiah adalah harga rupiah per satu unit dollar AS.
d. Tingkat Suku Bunga SBI
SBI (Sertifikat Bank Indonesia) adalah salah satu
instrumen yang digunakan untuk kebijakan open market operation dari Bank
Sentral (BI). Kebijakan Open Market Operation (Politik Pasar Terbuka)
meliputi tindakan menjual dan membeli surat-surat berharga oleh Bank Sentral.
Tindakan pembelian atau penjualan surat berharga akan mempengaruhi harga (dan
dengan demikian juga tingkat bunga) surat berharga. Akibatnya, tingkat bunga
umum juga akan terpengaruh (Nopirin, 1998)
2.2.4 Teori Inflasi
1. Teori Kuantitas
Teori ini adalah teori yang
tertua yang membahas tentang inflasi, tetapi dalam perkembangannya teori ini
mengalami penyempurnaan oleh para ahli ekonomi universitas Chicago, sehingga
teori ini juga dikenal sebagai model kaum moneteris (monetarist models). Teori
ini menekankan pada peranan jumlah uang beredar dan harapan (ekspektasi)
masyarakat mengenai kenaikan harga terhadap timbulnya inflasi.
Inti dari teori ini adalah
sebagai berikut:
1. Inflasi hanya bisa terjadi kalau ada penambahan
volume uang beredar, baik uang kartal maupun giral.
2. Laju inflasi juga ditentukan oleh laju pertambahan
jumlah uang beredar dan oleh harapan (ekspektasi) masyarakat mengenai kenaikan
harga di masa mendatang.
2. Keynesian Model
Dasar pemikiran model
inflasi dari Keynes ini, bahwa inflasi terjadi karena masyarakat ingin hidup
diluar batas kemampuan ekonominya, sehingga menyebabkan permintaan efektif
masyarakat terhadap barang-barang (permintraan agregat) melebihi jumlah
barang-barang yang tersedia (penawaran agregat), akibatnya akan terjadi inflationary
gap.
2.3 Kesempatan Kerja
Kesempatan kerja merupakan
kesempatan bagi angkatan kerja untuk menciptakan lapangan pekerjaan, dengan
harapan untuk mendapatkan imbalan berupa penghasilan ataupun keuntungan atas
pekerjaan yang dilakukannya. Keberhasilan suatu rencana pembangunan sangat
tergantung pada kemampuan menyediakan tenaga-tenaga yang melaksanakannya. Dasar
pemikiran kesempatan kerja adalah rencana investasi dan target hasil yang
direncanakan, atau secara umum rencana pembangunan.
Faktor-faktor dominan yang
mempengaruhi dalam perluasan kesempatan kerja (Soeharsono; 1982):
a. Kependudukan
Penduduk di satu pihak merupakan modal dasar, tetapi
sekaligus merupakan beban nasional apabila angka pertumbuhannya tidak diimbangi
dengan adanya perluasan kesempatan kerja.
b. Kedudukan geografi dan sumber daya alam
Kedudukan geografi yang strategi dapat merupakan
potensi yang dapat dikembangkan sebagai wadah maupun usaha penciptaan lapangan
pekerjaan.
c. Kondisi Ekonomi
Sektor informal yang padat karya merupakan faktor
dominan yang mempengaruhi kemungkinan perluasan kesempatan kerja.
d. Sosial budaya
Sosial budaya bangsa dengan pranata sosial merupakan
nilai-nilai yang dapat menghambat mobilitas angkatan kerja untuk tercapainya
perluasan kesempatan kerja.
e. Politik
Politik dalam pengertian proses pengambilan keputusan
kebijakan yang diambil untuk menciptakan iklim yang sehat bagi perluasan
kesempatan kerja merupakan usaha untuk mengembangkan sektor-sektor penampung
kesempatan kerja yang mempunyai produktivitas rendah dan juga tidak mengabaikan
usaha lain yang memberikan produktivitas yang lebih tinggi melalui beberapa
program.
2.4 Kemiskinan
Kemiskinan dipahami sebagai
keadaan kekurangan uang dan barang untuk menjamin kelangsungan hidup. Secara
umum, jenis-jenis kemiskinan dapat dibagi menjadi dua, yaitu kemiskinan absolut
dan kemiskinan relatif. Pertama, kemiskinan absolut, di mana dengan pendekatan
ini diidentifikasi jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan
tertentu. Kedua, kemiskinan relatif, yaitu pangsa pendapatan nasional yang
diterima oleh masing-masing golongan pendapatan. Berbeda dengan kemiskinan
absolut, kemiskinan relatif bersifat dinamis dan tergantung di mana seseorang
tinggal. Indikator kemiskinan pada umumnya menggunakan kriteria garis kemiskinan
(poverty line) untuk mengukur kemiskinan absolut. Menurut BPS (Badan
Pusat Statistik), tingkat kemiskinan didasarkan pada jumlah rupiah konsumsi
berupa makanan yaitu 2100 kalori per orang per hari (dari 52 jenis komoditi yang dianggap mewakili pola konsumsi penduduk
yang berada dilapisan bawah), dan konsumsi nonmakanan (dari 45 jenis komoditi
makanan sesuai kesepakatan nasional dan tidak dibedakan antara wilayah pedesaan
dan perkotaan) (Kuncoro, 2004).
Patokan kecukupan 2100
kalori ini berlaku untuk semua umur, jenis kelamin, dan perkiraan tingkat
kegiatan fisik, berat badan, serta perkiraan status fisiologis penduduk, ukuran
ini sering disebut dengan garis kemiskinan. Penduduk yang memiliki pendapatan
dibawah garis kemiskinan dikatakan dalam kondisi miskin. BPS menggunakan dua
macam pendekatan, yaitu: pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach) dan
pendekatan head count index.
Pendekatan yang pertama
merupakan pendekatan yang sering digunakan. Dalam metode BPS, kemiskinan
dikonseptualisasikan sebagai ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Sedangkan head count index merupakan ukuran yang menggunakan kemiskinan
absolut. Jumlah penduduk miskin adalah jumlah penduduk yang berada dibawah
suatu batas garis kemiskinan yang merupakan nilai rupiah dari kebutuhan minimum
makanan dan non makanan.